Kisah Isaac Newton yang Gemilang saat Wabah Melanda

Penulis: Aisyah Kamaliah - detikInet

(Foto: Pixabay/GDJ)

Jakarta - Ketika 'Great Plague of London' melanda Inggris mulai tahun 1665, Isaac Newton saat itu merupakan seorang mahasiswa di Trinity College, Cambridge. Beberapa bulan setelah memperoleh gelar sarjana pada musim semi tahun itu, pemuda 23 tahun ini kembali ke tanah pertanian keluarganya di Woolsthorpe Manor.

Kampungnya itu terletak jauh dari wabah sehingga aman dari pembawa penyakit mengerikan. Di sana lingkungan terasa lebih tenang dan tenteram yang mungkin pada akhirnya membuka pikiran Newton, tanpa gangguan. Ini juga yang membuat imajinasinya terasah dan menghasilkan prestasi di bidang pengetahuan.

Dikutip dari Biography, pertama, dia melanjutkan pekerjaan pada matematika. Pada akhir 1666, Newton telah secara efektif menyelesaikan masalah ini dengan serangkaian makalah tentang aturan 'fluxions', sekarang dikenal sebagai kalkulus.

Newton juga mengalihkan perhatiannya ke studi optik. Dia melakukan percobaan di mana dia mengebor lubang kecil di jendela kamar tidurnya, menyumpal cahaya dengan prisma, dan kemudian menempatkan prisma kedua di jalur sinar yang dibiaskan.
 

Panorama yang dihasilkan memungkinkan Newton untuk menghitung sudut setiap warna yang dibiaskan. Lebih penting lagi, ia mengungkapkan aliran warna tidak berubah -- bukti bahwa warna bukan modifikasi dari cahaya putih, tetapi bahwa cahaya putih terdiri dari semua komponen spektrum.

Wabah selesai pada 1667, Isaac Newton pun menorehkan prestasi. Kebiasaannya belajar setelah adanya wabah besar membuat ia menjadi lebih disiplin dan membawanya menelurkan semakin banyak karya.

Terinspirasi untuk bisa sesukses Isaac Newton saat melalui masa berat sekarang? Yuk, buktikan kalau kita masih bisa berkarya di tengah pandemi COVID-19. Di mulai dengan melakukan hal yang paling kamu suka, pelan-pelan pasti bisa.

(sumber: website Detik.com ''kisah isaac newton yang gemilang saat wabah melanda'')