Kisah Hijrahnya Pak Ary Ginanjar Agustian

”Setelah saya keluar dan berhenti sebagai dosen pegawai negeri, saya hijrah menjadi penjual celana jeans. modal cuma 2 lusin, alias 24 potong celana ! Satu potong dibeli oleh mahasiswa saya yg kasihan kpd gurunya yg miskin, yaitu saya.

Kemudian saya menyewa toko meski hanya mampu 3 bulan saja, dan tak ada lagi uang tersisa. ( hingga saat ini toko itu masih ada, kosong selalu …tak ada yg mau menyewa hingga sekarang karena saking tidak strategisnya….. )

Kehidupan yg penuh gelombang dimulai, tidak ada lagi gaji tetap…tidak ada lagi satu karung beras pegawai negeri yg biasanya saya pulang untuk istri dan anak setiap bulan…tidak ada kepastian.

Di toko sepi yg sepi itu saya merenung jauuh ke depan, suatu saat saya akan duduk di kursi direktur, dan punya kantor sendiri, dikelilingi oleh staff-staff yg membantu saya. Beberapa tahun kemudian menjadi kenyataan.

Kemudian saya merenung lagi, jauuh ke depan, suatu saat saya akan duduk di televisi dan diwawancarai dan akan dikenal. Beberapa tahun kemudian menjadi kenyataan.

Kemudian saya merenung lagi jauuuh ke depan, suatu saat Menara 165 25 lantai akan berdiri dgn tulisan Allah di atasnya, bersinar terang.

Apa kesimpulannya ? Beranilah untuk bermimpi, jangan takutn, kemudian berupayalah dgn keras untuk mewujudkannya. Dan yakinlah kita akan berhasil, dgn catatan tidak boleh ada keraguan sedikitpun. Kita adalah sesuai fikiran kita, kalau kita berfikir gagal maka kita akan gagal, kalau berfikir berhasil maka kita akan berhasil. Teruslah pelihara VISI dan KEYAKINAN kita, karena itulah sesungguhnya harta yg paling berharga. Bukan otak bukan harta, tapi keyakinan dihati yg membara terbakar cita-cita.

Man Jadda wa jada !

Salam Indonesia Emas.”

Salam165

Ary Ginanjar Agustian