43 WARSA : BERJUANG, BERJASA & BERJAYA
43 WARSA
BERJUANG, BERJASA & BERJAYA
Mimpi masih belum juga usai, masih setengah tayang, tapi azan sudah mengumandang. Tak ayal selimutpun ditendang. Dinginnya udara dan air wudhu tak mampu menghalang, meskipun tangan gemetar kedinginan dan kaku. Kaki tak mampu membawa raga ke surau, maklum jantung tak pula mendukung, meskipun tubuh sudah dililit sarung. Tak apa, yang penting songkok juga ikut berjongkok menghaturkan sembah dua rakaat. Meski raga telah bungkuk, hati pun tunduk dengan khusuk. Tak sedikitpun terbersit jiwa sombong karena sadar manusia hanya mahkluk kecil di kolong.
Ketika perahuku layarnya terkembang tak dinyana akan berlabuh di sebuah perusahaan telekomunikasi yang digdagya, yaitu PTT (Post Telegrap dan Telepon). Sebuah perusahaan peninggalan kolonial Belanda. Setelah melewati beberapa ujian zaman dan penguasa, hingga sekarang tetap digdaya meski gempuran dari berbagai pihak tak pernah berhenti.
Kalau malam-malam menjelang raga berkalang bantal, satu-persatu wajah teman-teman lama berkelindan dalam khayalan. Yang lucu, yang kolokan, yang cantik, yang tampan, yang jahat, yang pemalu, satu per satu menampakkan citranya di mata yang hampir terlelap. Bukan hanya wajah, ingatan peristiwa-peristiwa pun tak urung membayang menjelang tidur. Yang membanggakan, yang memalukan, yang menjengkelkan, yang menggetarkan hati, satu-persatu muncul dalam pikiran sebelum terlena.
Pengabdian selama tigadasa warsa, apakah ada peristiwa dramatis yang bisa diceritakan? Ada dan banyak! Saya pilihkan satu saja, inilah cerita singkatnya. Kandatpon (Kantor Daerah Telepon) kami berada di tengah kota sudah terkepung banjir. Air sudah masuk ke lantai pertama, dan tinggal sepuluh senti saja menyentuh rack MDF (Main Distribution Frame). Kepala kantor sudah menelpon pak Walikota, bahwa apabila banjir tidak surut, maka seluruh sistem telepon akan dimatikan. Karena kalau tidak, seluruh sistem akan rusak. Kepala kantor juga sudah mengumumkan kepada masyarakat lewat RRI, yang gedungnya kebetulan berseberangan jalan dengan kantor Kandatpon, bahwa, jika banjir terus naik maka seluruh sistem telepon akan dimatikan. Rupanya Tuhan masih sayang kepada kita. Banjir mulai surut, sehingga pemadaman telepon tidak terjadi. Hati pun lega.
Zaman terus berjalan, tak terasa sebuah masa transisipun datang menjelang. Tak mudah, namun tak bisa ditolak. Tak urung perasaan tercampakkan mengharubiru bergelora dalam jiwa. Jika tidak waspada godaan indera di depan mata bakal menerkam sisa usia. Mengapa? Karena sudah tidak ada pagar dan penanda yang mengekang. Betul-betul menjadi orang dengan kebebasan nyaris mutlak.
Rutinitas pagi yang dulu dipenuhi dengan ketergesaan untuk datang tepat waktu sebelum lonceng berdentang, mempersiapkan tang, dan tangga perentang pemanjat tiang, kini menjadi kenangan manis setelah masa berganti menjadi zaman pensiun. Sebuah kosa kata yang kita serap dari bangsa yang konon pernah bercokol beratus warsa di bumi nusantara.
Tua itu usia. Benar. Dan usia itu angka, itu juga betul. Tetapi bahwa tua menjadi tak berguna lalu menjadi beban yang muda, itu nanti dulu. Tua itu kaya, mungkin. Meskipun bukan harta, paling tidak kaya pengalaman dan kebijaksanaan. Apakah itu bermanfaat. Jangan salah sangka. Justru di situlah fondasi kehidupan yang sejati. Tanpa pengalaman, pengabdian masih meraba-raba, dan tanpa kebijaksanaan orang bisa terpeleset ke jurang kenistaan.
Tua itu identik dengan sakit. Betul. Tapi bukan sakitnya yang membuat tidak bahagia, melainkan ketika menolak sakit itulah yang membuat tidak bahagia.
Tua itu menderita, belum tentu.Yang membuat menderita bukan tuanya, melainkan ketika orang menolak tua. Padahal ketuaan itu alamiah. Siapa yang bisa menolak tua? Menolak sakit dan tua itu mengingkari kodrat alam dan membohongi diri sendiri. Itulah penderitaan yang sebenarnya. Lalu....? Terimalah tua dan sakit dengan ikhlas. Apakah berarti kita tidak boleh berobat dan berusaha untuk sehat? Bukan begitu. Berobat agar sehat itu wajib, tetapi dampingilah dengan kesadaran bahwa perubahan tidak bisa dihentikan. Maka rasa bahagia itu tak jauh dari anda.
Tua tak bisa dicegah, tak perduli anda seorang individu atapun organsisasi. Banyak sekali kehilangan, teman-teman, sanak saudara, orang tua dan lain sebagainya. Jika yang hilang itu tak anda tutup, maka kehidupan akan menjadi sepi sendiri. Ke mana raga harus dibawa. Kembali ke masyarakat. Sebelum kerja anda dibesarkan oleh masyarakat di lingkungan anda, sekaranglah setelah pensiun adalah waktu yang tepat untuk mengabdikan diri ke masyarakat. Di bidang apa? Sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Tidak harus sama dengan yang lainnya. Pengabdian tak ada stratanya. Ini lebih mulia daripada itu, dan itu lebih luhur daripada ini. Tidak demikian. Karena minat dan kemampuan masing-masing individu berbeda.
Di bidang ekonomi terlalu luas pilihan yang bisa diambil. Menjadi penjual dagangan sembako kecil-kecilan dulu untuk latihan. Kalau mampu silakan ke pasar, kalau tidak mampu cukuplah di rumah saja. Raga anda terus bergerak jadi sehat, pikiran anda terus bekerja tidak cepat pikun.
Mempraktekkan keahlian memasak sembari menjualnya untuk menambah pemasukan. Meskipun tidak besar tetapi aktivitas sangat baik untuk menjaga kesehatan. Siapa pembelinya? Tahap pertama teman pensiunan yang disasar. Medianya WA grup, setelah itu meluas ke grup lainnya, teman-teman, tetangga, internet, dan aplikasi lainnya yang banyak di media sosial.
Menjadi petani jika punya lahan. Silakan kerjakan sendiri kalau raga masih kuat, kalau tidak, apa salahnya mengupah orang lain. Kalau itung-itungan untung rugi masih tersisa sedikit kenapa tidak dilakukan. Selain tubuh terus bergerak, otak juga terus bekerja menghambat pikun.
Menjadi pedagang perantara cukup menjanjikan jika punya banyak koneksi.
Menjadi sopir grab atau gojek kalau masih kuat apa salahnya, daripada kendaraan menganggur memboroskan uang untuk membayar pajak dan servis mesin, mending dijadikan wahana mencari cuan.
Kalau punya kemampuan akademis dan pandai bicara di muka umum, mengapa tidak menjadi pengajar di sekolah-sekolah swasta. Fisik bergerak terus jadi sehat, pikiran bekerja terus menambah ilmu.
Kalau pandai menjahit tidak ada alasan untuk diam. Meskipun import pakaian dari luar negeri membanjir, tapi pakaian itu tidak selalu cocok untuk semua orang, sehingga masih ada peluang orang menjahitkan sesuai seleranya masing-masing.
Pendeknya terlalu banyak pilihan, dan tidak ada alasan untuk tidak produktif.
Yang tidak boleh dilupakan adalah bersyukur. Bersyukur itu pupuk bagi kebahagiaan. Tanpa rasa syukur kita akan terus merasa kekurangan, meskipun sudah memiliki banyak hal. Bersyukur adalah sikap batin atas apa yang sudah kita miliki, bukan terus meratapi apa yang belum kita punyai.
Empatpuluhtiga warsa bukan usia yang muda lagi, meskipun juga belum lagi tua. Keberjayaan sebuah lembaga, salah satunya sering dilihat dari kesejahteraan anggotanya. Dalam keadaan semua sumber daya dan sumber dana berkelimpahan, hal itu sangat mudah dicapai. Tapi mempertahankan keberjayaannya dalam situasi yang tak cukup mendukung justru itulah prestasi yang patut dibanggakan. Dapentel adalah contoh nyata.
Selamat Ulang Tahun ke 43 semoga berjaya selamanya.
Nama : Sutrisno
P2Tel : Magelang
eMail : Sutrisno.sastroutomo@gmail.com
Dapen Telkom